[SERAP KARYA] Cerpen : Menantikan Pulang

MENANTIKAN PULANG

Adzan subuh berkumandang membuat Budi terbangun dari tidurnya. Perlahan ia membuka mata. Kemudian ia duduk sebentar untuk menghilangkan pusing akibat tidur yang singkat. Jam menunjukkan pukul empat subuh. Budi bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah memakai sarung dan peci, ia bergegas menuju langgar dekat kontrakannya. Ia melipat tangannya ketika merasakan bayu semilir. Padahal langgarnya itu hanya beberapa langkah saja dari kontrakannya. Dingin.
Selesai sembahyang subuh, Budi segera keluar langgar.
“Eh Budi!” panggil seseorang yang tengah berlari menyusul Budi.
            Budi menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya. Itu Pak Agung, tetangganya.
            “Kamu jalan cepet banget! Eh gimana kerjaan kamu? Aman?” tanya beliau sambil memegang bahu Budi.
            “Alhamdulillak pak. Aman, saya bukan di antaranya,” jawab Budi.
         “Alhamdulillah kalau gitu. Tadi saya lihat, kamu pulang sekitar jam tiga pagi ya? Itu kamu habis dari mana? Sudah sahur?” tanyanya lagi.
            Mereka menghentikan langkah ketika telah sampai di depan kontrakan Budi.
            “Mmm... Saya cuma cari angin saja pak dan ya, saya sudah sahur,”
            “Jangan sering-sering keluar begitu Bud. Bahaya,”
            Budi hanya diam. “Kalau begitu, saya duluan pak. Assalamualaikum.”
            “Waalaikumsalam. Budi?” panggil Pak Agung lagi.
            Budi menoleh lagi ketika dia hendak masuk ke dalam rumahnya.
            “Kamu kalau ada apa-apa, bilang ke bapak ya? Jangan sungkan.”
            Budi hanya mengangguk sambil tersenyum tanda mengerti.
            Budi segera mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek. Kemudian ia duduk di atas kasurnya dan menyandarkan punggungnya pada dipan. Ia teringat percakapannya dengan Pak Agung tadi. Ia berbohong pada Pak Agung. Ia belum sahur atau lebih tepatnya tidak sahur. Bukan mengapa ia tak sahur, tapi untuk saat ini, ia hanya harus berhemat. Bahkan segelas air pun tak ia teguk. Puasa tahun ini memang berbeda. Sejak hari pertama puasa, ia merasa bahwa suara dari pikirannya lebih keras daripada suara perutnya. Benar bahwa Budi masih menjadi karyawan di kantornya, tapi tahun ini sepertinya ia harus mengencangkan ikat pinggangnya kuat-kuat.
            Ah kerja masih nanti, ucap Budi dalam hati. Sejak dihimbau untuk bekerja di rumah, kantornya memberikan himbauan juga untuk bekerja di rumah, selama memang pekerjaannya bisa dikerjakan di rumah. Ia berpikir untuk melakukan sesuatu sebelum bekerja. Mau menonton tv tapi ia tidak punya tv. Mau membersihkan rumahnya, tapi sudah ia lakukan kemarin. Ia mengambil handphone dari atas mejanya. Tanggal duapuluh. Sebentar lagi lebaran. Bicara soal lebaran, sama, tahun ini juga akan berbeda.
            Punten ambu, bukannya Budi tidak mau pulang. Tapi, ada proyek yang lumayan besar untuk acara tahun baru ini. Posisiku lumayan ambu. Ini kesempatan emas. Ambu doakan Budi ya?” ucap Budi enam bulan lalu, melalui telepon.
            “Begitu ya a’? Ambu pasti doakan aa’ setiap hari. Semoga aa’ sukses ya acaranya?” jawab ibunya.
            Kesempatan emas yang Budi ucapkan waktu itu, kini tak lebih dari sebuah kesuksesan sesaat yang kalau dilihat kembali sudah tidak terlalu bersinar. Redup. Budi menertawakan dirinya sendiri. Padahal jika diingat kembali, masih ada waktu untuk pulang beberapa hari sebelum proyek itu berjalan. Bahkan proyek itu juga bisa dikerjakan di mana saja. Andai waktu bisa diputar. Budi ingin sekali mengerjakan proyek itu lagi. Ia membayangkan dirinya sedang berada di atas kereta api sambil bekerja. Ketika sampai di rumah ibunya, ia juga masih bisa melanjutkan pekerjaannya. Kok saya bodoh sekali ya? Zaman sudah canggih tapi mulut, pikiran dan sifat saya kurang canggih. Apa harus nunggu Work From Home dulu baru bisa memanfaatkan kecanggihan dan setelah itu yang lain mengikuti?
            Budi menuliskan kata ambu di kolom pencarian di kontaknya. Tapi rasa bersalah menutupi keberaniannya untuk menghubungi orang yang paling ia cintai itu.

***

            “Budi. Kamu pasti udah denger berita kan? Kita ga bakalan bisa mudik lebaran ini,” ucap Riswan melalui video call.
            Riswan adalah salah satu teman kerjanya yang terkadang menemaninya pulang ke Bandung.
            “Iya mas. Saya sudah tahu,” jawab Budi sambil menyeruput kopi hitamnya.
       “Gapapa ya Bud? Kita berdoa saja semoga keadaan cepat membaik jadi kita bisa pulang kampung lagi,”
            Kapan? Kapan keadaan akan membaik?
            Selesai video call, Budi ingin sekali mencari angin – lagi - sambil berjalan kaki. Tidak mau naik kendaraan umum apapun. Ia mulai keluar dari gang kontrakannya. Jalanan masih ramai oleh beberapa orang. Ia terus berjalan tanpa tujuan. Di bawah sinarnya lampu jalan, ia berpikir dalam kegundahannya.
            “A’ tahu gak kalau ibu sakit?” ucap Bila, adik perempuannya tiga bulan lalu.
            Budi terdiam. Bingung harus menjawab apa. Jika yang bicara sudah adik perempuannya yang cerewet itu, ia memang selalu kalah.
            “Aa’ tahu gak kalau obatnya itu aa’ pulang ke rumah?”
            Budi telah berjalan semakin jauh dari gang kontrakannya. Malam semakin larut. Jalanan kota mulai membisu. Kecuali warung kecil di dekat rel kereta api itu. Ada dua atau tiga orang di sana, sedang minum kopi dan merokok. Budi juga ikut memesan secangkir kopi. Satu pesan muncul dari handphone nya. Matanya mulai membasah.
            Benar kata mereka, hiduplah seperti tak ada hari esok. Ku kira aku sudah menghargai waktu. Tapi nyatanya semesta tak selalu setuju padaku.

***

            Suara takbir berkumandang. Beberapa orang keluar dari rumahnya. Tapi hanya sebatas di teras saja atau di depan pagar.
            “Minal aidzin wal faidzin ya nak Budi!” teriak salah seorang ibu-ibu sambil menyatukan dan melambaikan tangannya.
            “Iya bu, sama-sama!” jawab Budi sambil tertawa lebar sekali.
            Pak Agung menghampirinya. “Minal aidzin wal faidzin ya? Begini saja salamannya biar kayak anak gaul,”.
            Pak Agung menyodorkan sikunya. Budi hanya tertawa dan membalas salaman Pak Agung dengan sikunya juga.
            “Ada-ada aja Pak Agung nih,”
            Setelah bersalam-salaman – dari jauh -, ia segera masuk kembali ke kontrakannya. Ia mengambil handphone nya. Ia menuliskan kata ambu dalam kolom pencarian di kontaknya. Kemudian ia menaruh handphone nya di atas kursi. Ia benar tahu bahwa ambunya sudah lama menantikannya pulang. Kini Budi akan pulang, dengan perangkat sebagai transportasinya. Tersambung. Ia mulai bersiap dengan berdiri dengan lutut sebagai tumpuannya. Membayangkan ambunya yang duduk di hadapannya.
-Tamat -

Penulis : Chayavi Faizza Kurnia 

Kabinet Aksata Rahagi: Beraksi Bersama, Berdaya Inspirasi

Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen 2025 Kabinet Aksata Rahagi adalah organisasi yang hadir sebagai wadah dinamis bagi mahasiswa untuk berkembang, bersuara, dan bersinar. Di sini, setiap langkah dan ide mahasiswa dihargai seperti bintang yang menyemarakkan malam. HMJM bukan sekadar organisasi, melainkan ruang kolaborasi penuh semangat yang memupuk aspirasi, mempertemukan mimpi, dan mendorong potensi. Dengan program kerja yang kreatif, terbuka, dan relevan, kami hadir untuk menjawab kebutuhan para mahasiswa S1 Manajemen masa depan. Yuk, jadi bagian dari perjalanan luar biasa ini dan lihat apa yang bisa kita capai bersama. Let’s light up the sky together with HMJM. HMJM, We Believe We Can Do It!