[SERAP KARYA] Cerpen : Penertib Jalanan Berhati Dermawan

Penertib Jalanan Berhati Dermawan



            Riuhnya suasana di luar ruangan, sangat berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam suasana hatiku. Kurasakan hanya temeram cahaya yang menyelimuti perasaan saat ini. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa hari ini tidak sama dari hari-hari sebelumnya. Bukannya malah membaik, tetapi keadaan yang riuh dan kacau semakin semerbak kesana kemari. Tidak karuan datang silih berganti dari hari ke hari. Ingin aku bebas dari jeratan suasana yang buruk ini. Bahkan, sinar mentari yang terbit dari timur memancarkan cahaya yang surut kelabu. Biasanya sinar tersebut bercahaya dengan warna jingga yang menyiratkan pesan kebahagiaan. Entah apa yang aku alami sekarang ini sama atau tidak dengan yang dirasakan orang lain. 

            Hidupku memang tidak seberuntung orang kebanyakan, sehingga dalam kondisi seperti ini aku semakin terpuruk. Biasanya setiap memulai hari aku sudah berjualan kesana kemari, tetapi sekarang hanya segelintir tempat yang bisa aku singgahi. Menjajakan dagangan yang kugelar di pinggir jalan supaya banyak orang yang melihatnya, lalu orang tersebut akhirnya tertarik untuk membeli. Tempat berjualanku juga tidak menetap pada satu tempat saja. Kalau masih sedikit pembeli, maka aku akan mengangkuti barang daganganku ke tempat yang lainnya. Selain di pinggir jalan, aku juga berjualan di tempat tempat umum yang terdapat hilir mudik orang sana sini, seperti di Taman Kota Srikandi, pasar, Pelabuhan Dum, depan SD, dan masih banyak lagi. Apalagi kalau ada event event yang diselenggarakan oleh Bapak Bupati. Pasti aku tidak pernah absen untuk menempati posisi terbaikku untuk berjualan.

            Kondisi yang terpuruk belakangan ini, membuat aku rindu dengan suasana keramaian. Ramaiku tentu bukan untuk bersenang senang, tetapi hidup berjuang supaya kebutuhan sehari hari terpenuhi. Aku putus sekolah sejak usia kelas 4 SD dan sekarang aku harusnya sudah duduk di bangku SMA. Penyebabnya ialah ibuku meninggal akbiat serangan jantung dan ayahku pergi meninggalkanku entah kemana setelah seminggu kepergian ibu. Aku bahkan tidak tahu penyebabnya. Jangan tanya soal hubungan kerabat keluarga. Aku hanya hidup dengan kedua orang tuaku. Mereka jauh hidup di perantauan tanpa pernah peduli dengan nasib yang aku alami. Selain itu, mereka saja tidak datang waktu ibu meninggal. Hanya tetangga saja yang turut hadir dalam prosesi pemakaman.

            Selepas kejadian tersebut, aku memilih untuk hidup dengan fokus mencari nafkah. Memang kalau dipikir kejadiannya menyakitkan dan membuat aku hancur pada waktu itu, tetapi aku tidak pernah membenci ayah sama sekali. Aku sadar bahwa tanpa kedua orang tuaku aku tidak pernah bisa hidup dalam dunia yang penuh dengan perjuangan seperti ini. Lahir untuk menjadi anak yang mandiri. Aku akan selamanya menyayangi mereka.

***
            Padahal sekarang adalah hari kemenangan bagi setiap umat muslim di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Biasanya aku merayakan hanya dengan sholat Idul Fitri lalu makan makanan yang diberikan sesama pedagang dan yang paling penting adalah kumpul bersama, sehingga suasana kebersamaan tercipta erat. Itu saja sudah cukup. Entah makanannya enak atau tidak, aku tidak peduli. Semua yang berupa wujud hilang sirna begitu saja. Kasih sayang dan kebersamaan inilah yang paling aku cintai. Jangan tanya soal baju baju baru. Mungkin uangku hanya cukup untuk membeli baju bekas seharga 50.000, tetapi hal tersebut tidak pernah aku lakukan. Pikirku percuma beli yang seperti itu. Sama sekali tidak mengenyangkan perut. Tidak bisa memuaskan rasa lapar dan dahaga selama hidup ini.

            Apalah mau di kata. Sumber utama penyebab semua ini adalah Virus Corona yang sudah menjadi pandemi di bumi. Jutaan orang positif akan keberadaan virus ini. Belum lagi yang meninggal sudah mencapai ratusan ribu. Semua kehidupan menjadi kacau dan jauh berbeda. Termasuk di Indonesia yang peningkatan virus Corona masih terus terjadi dari hari ke hari. Tidak tahu sampai kapan kondisi ini akan berakhir. Sudah berbulan bulan lamanya peraturan mengharuskan kita semua untuk tetap aman dengan berada di rumah.

            Aman di rumah bukan membuat hidup semakin membaik. Justru inilah yang membuat nafkah pencarianku tersendat. Bahkan dalam sehari aku tidak mendapat uang sepeserpun. Daganganku hanya snack snack, cilok, dan minuman yang tertata rapi dalam pikulan yang biasa kugelar di jalanan. Semacam penjual sate yang biasa berkeliling dari rumah ke rumah itu. Dari mulai subuh sehabis sahur, aku sudah menata dagangan untuk kujual. Hasilnya memang menurun drastis, tetapi mau bagaimana lagi. Tuntutan untuk hidup terus membuatku untuk melakukan pekerjaan ini.

***
            Idul Fitri hari ini sudah di depan mata. Suara takbir menggema saling bersahut sahutan disertai dengan suara pukulan bedug. Allahu Akbar 3x, laillahaillahuallahu akbar, allahu akbar waillailham. Idul Fitri 1441 H ini jatuh pada Hari Minggu. Melakukan solat Idul Fitri ini diimbau untuk di rumah saja. Tapi, bukan seluruhnya yang melakukan ibadah di rumah. Dengan syarat tertentu dan yang utama penerapan protokol kesehatan, solat Idul Fitri berjamaah masih tetap bisa dilakukan. Termasuk masjid yang ada di daerah tempat tinggalku. Alhamdulillah masih aman. Jadi, meskipun kali ini nasib begitu tidak mau bersahabat denganku, aku tetap melakukan solat Ied di masjid.

            Sebelum menjelang shubuh, aku tetap melakukan kewajibanku untuk menyiapkan barang dagangan yang nantinya akan kupakai jualan setelah Sholat Ied selesai, supaya uang sedikit banyak masuk ke dalam penghidupan. Sebenarnya aku tidak yakin akan datang satu orang untuk membeli barang daganganku, tetapi yang paling penting usaha tetap kulakukan demi menyambung hidup. Di momen Lebaran seperti ini, aku tetap rajin membuat cilok dan menyiapkan yang lainnya meski modalnya sedikit. Padahal belum pernah sebelumnya pada momen Lebaran aku berjualan. Tapi tidak apa apa. Aku ikhlas juga menjalaninya.

            Setelah semuanya selesai menyiapkan barang dagangan, aku bergegas untuk melaksanakan sholat subuh sebagai kewajiban setiap umat Muslim. Aku memang tidak pandai dalam pengetahuan, tetapi aku tetap mempelajari bagaimana caranya bersikap dan beribadah lewat apa yang kulihat di kehidupan sehari hari. Kadang tambahannya melalui radio dan TV yang kudengar setiap aku lalu lalang berjualan. Lumayan menambah ilmu selagi tetap melakukan kewajiban, yaitu berjualan.

***
            Terdengarlah suara ketukan pintu. (Sambil mengetuk pintu) “Assalamualaikum Vian” sapa temanku berjualan. “Waalaikumsalam.” sambil membuka pintu. “Eh, Nifsa. Mari silahkan masuk.” jawabaku. Aku pun mempersilahkan Nifsa untuk duduk di bawah gelaran koran. Rumahku yang terbuat dari gedhek (anyaman bambu) dan kardus memang sangat memprihatinkan dan tidak layak huni. Aku memilih untuk meninggalkan rumah setelah uang santunan dan bantuan yang kuterima setelah Ibu meninggal selama 2 tahun sudah habis. Aku takut tidak bisa membayarnya.

            Nifsa adalah temanku berjualan. Dia ikut bersamaku untuk menjajakan dagangan, tetapi itu jarang, karena memang barang dagangan kami berbeda dan tempat yang dituju juga pasti berbeda menyesuaikan kebutuhan. Nifsa berjualan pakaian. Hubungan kami bisa akrab karena nasib kami sama. Ya mana mungkin orang dari kalangan lebih layak ada yang mau berteman dengan kami. Bagiku, meski sama-sama punya nasib yang tidak beruntung, tetapi pertemanan tetaplah hal yang utama. Manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial yang saling melengkapi.

            Kami pun mengobrol di ruang beralaskan gelaran koran sebelum berangkat beribadah ke Masjid. “Singkat saja Vian kedatanganku kemari. Aku ingin menyampaikan bahwa nanti jam 13.00 ada acara makan kecil kecilan dariku.” jelas Nifsa. Rupanya Nifsa mengundangku untuk menghadiri acara makan-makan nanti siang.

            Aku mulai memikirkan hal tersebut, karena tidak mungkin juga aku terlena pada Lebaran kali ini dengan menghadiri acara tersebut. Nafkah harus kuutamakan sepertinya. Bukannya aku egois dengan acuh pada undangan Nifsa. Nasib begitu menjeratku sekarang. Maka aku jawab tawaran Nifsa dengan ketidakpastian. “Baiklah Nifsa. Tapi aku pikirkan hal ini terlebih dulu, karena masih ada urusan yang harus kuselesaikan.” jawabku.

            “Jadi begitu ya Vian. Iya sudah tidak apa-apa. Ini juga aku mengundangmu karena ada rezeki lebih dariku.” sahut Nifsa. Sepertinya Nifsa kali ini lebih beruntung dariku. Hati perempuan berumur 16 tahun ini sungguh baik. Dia memang tidak pernah lupa pada kondisi temannya disaat apapun. Akupun hanya bisa ikut senang dan membatin dalam hati, “Kapan aku bisa seperti Nifsa?”. Ketika berbuat baik, kita tidak sama sekali mengalami kerugian.

            Selepas obrolan kami yang membahas mengenai undangan makan makan kecil di rumah Nifsa, Nifsa pun pamit untuk segera pulang. “Baiklah Vian. Aku lekas pulang untuk sholat bersama Pak Samat. Assalamualaikum Vian” pamit Nifsa. Tunggu dulu. Nifsa itu tidak punya rumah. Dia diajak numpang di rumah Pak Samat, pedagang sayur. Hidupnya sama sepertiku. Kondisi keluarganya juga yang mengharuskan Nifsa untuk hidup mandiri sama sepertiku. Aku tidak menawarinya untuk ikut Sholat Ied bersama di masjid daerahku, karena sudah pasti Nifsa sholat bersama Pak Samat yang sudah mau membantu hidupnya selama ini yang sudah dianggap seperti keluarga.

***
            Akupun mempersilahkan Nifsa pulang. Setelahnya, aku mesti bersiap untuk berangkat ke Masjid. Aku ambil tumpukan baju yang kondisinya masih layak untuk dipakai ketika sholat nanti. Aku berwudhu, merapikan semuanya, dan bergegas untuk meninggalkan rumah sejenak untuk ikut ibadah mensucikan diri meraih hati yang lebih bersih lagi. Pintu rumah hanya kututup biasa, karena memang tidak ada kuncinya. Tepat pukul 05.45 aku berjalan kaki menyusuri sawah dan kebun karena memang rumahku agak terpencil letaknya. Tidak jauh kok jaraknya, hanya 10 menit aku sudah sampai Masjid.

***
            Suasana sawah dan kebun yang kulewati sejuk dan segar. Apalagi kalau cuacanya masih pagi seperti ini. Sangat bagus untuk kesehatan, selain untuk memanjakan mata yang melewatinya. Tapi untuk kali ini aku harus agak ngebut secepat kilat, karena kalau telat tidak bisa sholat Ied. Percuma juga sudah jalan kaki, tetapi malah tidak membuahkan hasil.

            Banyak orang yang lalu lalang ngebut melewatiku. Ada yang jalan kaki, menggunakan sepeda ontel, dan sepeda motor. Itu pasti dari RT sebelah. Jalanan dari rumah ke Masjid memang kondisinya rusak, karena dana yang diberikan katanya hanya cukup untuk keperluan perbaikan fasilitas umum. Maka dari itu, jalan yang kulalui berkerikil dan sudah retak retak tanahnya.

            “Halo Dek Vian. Kok ngebut sekali. Nanti kamu capek lho. Sini bareng saya saja ke Masjidnya naik sepeda ontel.” sapa Pak Danar. Di tengah perjalanan kurang lebih 5 menit lagi untuk mencapai Masjid, ada yang memanggilku. Akupun menoleh dan balik membalas salam yang ternyata itu adalah Pak Danar. Pak Danar adalah penyapu jalanan yang rumahnya di RT sebelah. Terkadang ketika berjualan aku bertemu dengannya. Dia belum menikah, karena mungkin masih harus memenuhi ekonomi hidupnya. Maka akupun dengan senang hati menerima tawaran dan berbocengan dengan Pak Danar.

***
            “Alhamdulillah akhirnya sampai. Terima kasih ya Pak Danar. Semoga Allah SWT senantiasa membalas kebaikan Pak Danar.” ucapku. Pak Danar juga sumringah ketika mendengar ucapan terima kasihku. Aku memang hanya bisa berucap, tetapi tidak bisa memberi apa apa karena keterbatasan ekonomi. Pak Danar pun tetap senang karena paham akan kondisiku.

            Tidak perlu berbasa basi lagi, kamipun lekas menempati posisi sholat yang tersedia. Aku dan Pak Danar sejajar tempat sholatnya, karena siapa lagi yang bisa kuajak bersama. Gemuruh dan keriaan memang terasa ketika kita sudah sampai Masjid. Umat muslim bahagia menyambut hari raya kemenangan, yaitu Idul Fitri. Meskipun di tengah pandemi Corona seperti ini, momen yang begitu suci masih hangat terasa. Bedug dipukul dengan gemuruh suara takbir yang selepas itu dilanjutkan dengan solat berjamaah. Akupun mengikuti segalanya dengan khusyuk. Khotbah pun nanti tidak lupa ku resapi. Aku ambil hikmahnya dari apa yang disampaikan penceramah.
Satu setengah jam berlalu,

            Akhirnya rangkaian Solat Ied 1441 H ini selesai. Hatiku rasanya semakin tenang dan bersih setelah mengikutinya. Alhamdulillah ada hikmah yang kudapat pada Lebaran ini. Para jamaah pun lekas bergegas pulang. Jamaah kali ini tidak memenuhi Masjid. Sepertinya ada yang beribadah di rumah bersama keluarganya. Protokol kesehatan tetap di taati dengan menjaga jarak dan penyediaan hand sanitizer di Masjid. Semuanya aman terkendali sampai acara selesai.

            Akupun diantar pulang kembali oleh Pak Danar, tetapi tidak sampai rumah karena RT kami berbeda. Jarak antara rumahku dan Pak Danar lumayan cukup jauh. Aku diturunkan di tengah jalan sama seperti Pak Danar ketika menawariku untuk berangkat bersamanya. “Sampai sini saja ya Vian. Kondisi yang tidak memungkinkan membuat Vian saya turunkan disini. Maaf ya Vian.” kata Pak Danar. Akupun mengucapkan terima kasih banyak dan mengatakan tidak perlu minta maaf. Memang adanya seperti ini. Tidak ada yang salah. Lalu, setelah Pak Danar pergi aku melanjutkan perjalan pulang ke rumah dengan jalan santai, karena sudah tidak ada urusan yang menurutku harus tepat waktu. Hanya saja nanti aku akan istirahat sebentar untuk setelah itu berjualan.

***
            Sesampainya di rumah, aku menengguk air putih lalu duduk sebentar untuk sekedar melepas dahaga dan keringat. Ku tenangkan diriku, kunikmati hawa suasana Lebaran meski tidak sepenuhnya. Letak tempat tinggalku memang terpencil. Tapi adalah 2 sampai 3 rumah yang itupun letaknya tidak berjajar. Rumah itu di huni oleh orang yang nasibnya kurang mampu sama sepertiku. Maka dari itu, untuk hawa Lebaran sepatutnya hanya bisa kurasakan lebih manfaatnya pada saat berada di Masjid, karena disini sepi. Jadi kalau sepi, aku biasanya langsung ke para pedagang yang senasib untuk sekedar menikmati momen Lebaran bersama.

            Sesudah beristirahat, aku bergegas berganti kaos tipis yang sudah ada lubang di pundak kiri kanannya, akibat berat dagangan yang kupikul. Berat rasanya kali ini harus kujalani, walaupun sebelumnya juga tidak terlalu beruntung. Ini momen terparah yang kualami. Tapi mau bagaimana lagi. Mendapatkan uang sudah jadi kewajibanku.

            Pikulan yang berisi dagangan sudah kutata sejak subuh tadi. Aku bisa dapat bahan dagangan karena aku yang menjualkannya. Jadi seperti ini, aku mengambil barang di penjual, setelah itu aku jualkan kembali dan hasilnya dibagi dua. Untuk yang ciloknya, aku membuat dari hasil berjualan. Alhamdulillah selama ini masih ada dan dan sekarang aku hanya tinggal berangkat mengais rezeki di tengah momen kebahagiaan seperti ini. Topi lusuh kupakai, dagangan kupikul, kututup pintu rumah, dan akhirnya berangkat mengais nafkah.

***
            Sekitar pukul 09.00 pagi, aku mulai menyusuri jalanan untuk menjajakan dagangan. Suasana lengang dan udara yang sedikit tercemar membuat aku masih bersemangat menikmati hari. Deru kendaraan dan suara bising knalpot renggan memenuhi jalanan. Hanya segelintir orang yang riwa riwi untuk mengunjungi sanak keluarga dengan berpakaian muslim.

            Memang aneh rasanya kalau dipikir pikir berlebaran seperti ini masih ada orang yang berjualan. Padahal sudah pasti kalau Lebaran jalanan lengang karena yang berjualan tidak ada. Tapi itu dulu. Sekarang lain lagi ceritanya. Langkah demi langkah terus kususuri demi mendapat nafkah. Jaraknya jauh memang kalau aku berjualan, karena jualanku di kota, bukan semacam desa. Kurang lebih sekitar 3 km untuk sampai ke kota. Ini memang sudah menjadi rutinitas rutin yang aku lakukan dengan berjalan kaki.

***
            Tepat di pinggiran Taman Kota yang kurang lebih aku telah menempuh waktu satu jam, lalu akupun menggelar dagangan. Alhamdulillah perjalananku baik baik saja, tidak ada yang bersikap buruk kepadaku. Keringatpun hanya sedikit menetesnya. Tidak terlalu melelahkan. Suasana Taman Kota Srikandi yang bersih karena tidak ada pengunjung membuatku nyaman nyaman saja berjualan. Segar dan wanginya bunga yang bermekaran membuatku betah berlama lama. Lantas, aku mulai berpikir untuk membatalkan undangan Nifsa. Disini sangat mendukung kehidupanku.

            Mulai dari cilok, snack yang disukai anak kecil, dan minuman yang menyegarkan aku tata sedemikian rupa agar menarik minat pembeli. Tidak khayal lantas banyak yang laku, meskipun aku yakin tidak bisa habis dalam sehari. Butuh kesabaran dalam hal menunggu pembeli. Apalagi di tengah kondisi yang rumit sekarang. Tapi aku harus terus mengerahkan segala tenaga agar mencapai hasil yang maksimal. “Beli beli beli. Ayo dibeli. Yang haus, yang lapar bisa singgah sebentar. Dijamin tenaga terisi.” ucapku saat menjajakan dagangan. Sesekali pun aku istirahat dan kubiarkan setiap orang lewat melihat daganganku tanpa aku harus lelah berbicara.

            Di Taman Kota Srikandi hanya ada aku dan dua orang pedagang yang berjualan. Letaknya pun cukup berjauhan. Mereka sama sama mengais rezeki. Aku tidak kenal dengan para pedagang tersebut, karena temanku yang lain sepertinya memilih tempat yang baru untuk berjualan agar lakunya bisa cepat. Suasana semakin sepi dari menit ke menit. Hembusan angin yang menerpa terkadang membuat mengantuk. Sesekali juga, tidak lupa aku mengaji demi membuat pikiran ini lebih tenang dan mengatasi rasa kantuk. Sekiranya hanya ada puluhan kendaraan yang lewat selama beberapa jam.

            Belum ada satupun pembeli yang mampir ke daganganku. Bahkan panas terik matahari sudah semakin menyengat. Meresap ke kulit dan membuat hawa gerah bertambah saja. Lantas sepertinya ini sudah masuk pukul 12.00. Lalu akupun bergegas berwudhu di toilet umum untuk tetap sholat dzuhur.

***
            “Ayo ayo ayo yang masih jualan jangan kabur. Anda sekalian kami tangkap. Razia darurat. Ayo ayo jangan lari. Sudah tidak ada pengampunan.” suara petugas. Suara yang terdengar lamat lamat oleh Vian, karena jaraknya masih jauh.

            Dan ketika aku selesai dari berwudhu, terdengar bunyi sirene yang sepertinya berarti pengusiran. Akupun terkejut bukan kepalang. “Suara apa itu. Apa sepertinya ada petugas yang ingin mengusirku.” kata Vian. Jantungku mulai berdegup kencang. Pikiranku tidak karuan. Apa yang akan terjadi selanjutnya. Lantas, tanpa pikir panjang akupun lari sekencangnya demi menengok dagangan yang berada kurang lebih 1 km dari tempatku berwudhu.

            Sesampainya di tempat jualan, ternyata itu adalah para Satpol PP yang mengambil daganganku. “Pak jangan diambil Pak. Saya mau makan apa nanti Pak.” ucapku yang memohon sambil berderai air mata. Ternyata mereka mau merazia para pedangang yang masih nekat berjualan. Lalu satu persatu daganganku raib diambil oleh Satpol PP. Tidak ada yang bersisa. Diangkuti ke mobil yang mereka bawa. Suasana semakin riuh ketka aku menangis sekencangnya tapi tidak dipedulikan, lalu aku juga tidak ketinggalan dimasukkan ke dalam mobil razia bersama dua pedagang lain. Aku sempat meronta, menolak untuk diajak. Tapi semua itu sia sia. Mereka tetap membawaku ikut bersama barang dagangan.

            Di perjalanan aku hanya bisa menangis. Dua pedagang lainnya juga ikut sedih tanpa meneteskan air mata. Mungkin mereka lebih memilih untuk memendam kesedihannya. Semua yang kulewati dan yang kulihat kosong dan tidak berwarna. Suasana jalan sudah tidak bisa kulihat. Tidak ada suasana yang baik disini. Bahkan, walaupun ada seorang pedagang yang coba menenangkanku untuk berhenti menangis sungguh tidak aku hiraukan. “Nak, sudah ya. Jangan menangis terus. Kita sama sama dalam kondisi seperti ini. Semua akan baik baik saja. Insyaallah.” ucap seorang pedagang. Ucapan yang keliru. Mana mungkin kondisi akan baik seperti semula. Mereka hanya coba membuatku tidak menangis. Itu saja. Tidak ada ketenangan. Selebihnya, sudah pasti ini bencana bagiku.

***
            “Ayo turun. Sekarang kalian ada di panti sosial. Sisanya nanti kalian urus.” ucap salah seorang Satpol PP. Tempat yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Dalam hati, sebenarnya aku juga pasti akan menanggung resiko kalau tetap berjualan di masa Corona. Pikirku, aku tidak menyesali sama sekali terhadap apa yang terjadi dan juga tidak pernah membenci Satpol PP. Mereka petugas yang hebat. Rela bekerja demi menertibkan kami para pedagang. Kalau tidak ada mereka yang bertugas, siapa lagi yang membuat pandemi ini lebih cepat berakhir. Lalu, yang membuatku sedih hanyalah bagaimana nasibku selanjutnya. Sungguh ketidakpastian yang abstrak. Tapi akupun masih bersyukur. Untung mereka membawaku ke panti sosial. Setidaknya tempatnya tidak mengerikan.

            Bapak Satpol PP menggangdengku masuk ke ruangan. Panti tersebut aneh, karena aku tidak menemukan satupun orang yang nasibnya sepertiku ikut tertangkap. Hanya kami bertiga para pedagang. Akupun dibawa ke ruangan khusus dengan pintu tertutup. Dua lainnya di tempat berbeda. Ini sudah jelas kami akan diintrogasi. Bertanya ini itu sampai menemukan jawaban yang memuaskan. Akupun menjawab satu per satu dengan alasan yang sejujur jujurnya.

            Hanya ada dua orang saja antara aku dan Pak Satpol PP cukup membuatku cemas juga dalam menjawab pertanyaan. Aku berhenti menangis. Bapak yang gagah sekarang berada berhadapan. Pertanyaan satu demi satu terlontarkan yang arahnya mengapa masih tetap berjualan. Intinya itu. Kujawab saja dengan lugas, padat, dan jelas. “Nak, mengapa kamu masih berjualan?” tanya Pak Satpol PP. Tanya dengan lembut yang membuat aku sedikit tenang dan santai dalam menjawabnya. Sungguh dibalik tubuh fisik gagah dan kuat, Pak Satpol PP sudah seperti keluarga yang menasihatiku di dalam obrolan kami.

            “Saya tetap berjualan untuk memenuhi ekonomi Pak” jawabku. Apalagi yang harus kujawab. Intinya kan itu. Lantas, berulang kali jawabanku sama seperti itu maka inilah pertanyaan yang sebenarnya berat untuk kujawab. Rasa sesak mulai muncul di dada. Melihat nasibku yang malang seperti ini mau beruubah jadi lebih baik tidak tahu waktunya. Akupun menangis menjawab pertanyaan Bapak Satpol PP. Bapak tersebut bertanya, “Pasti ada alasan lain nak mengapa kamu terus berjualan. Ayah ibumu mana? Apa mereka tidak kasih uang?.”

            “Maaf sebelumnya Pak. Saya hidup sendiri. Ibu saya meninggal ketika saya kelas 4 SD. Ayah saya pergi entah kemana tanpa satupun alasan. Kerabat saya jauh disana. Tidak tahu dimana. Tidak ada yang mengunjungi pemakaman Ibu. Untuk itulah saya hidup mandiri. Jangan tanya soal rumah Pak. Saya tidak punya rumah layak/peninggalan. Bangunan kardus dan koran cukup bagi saya.” jelasku. Aku sudah tidak tahan lagi untuk menangis sebanyak banyaknya. Mengenang hal seperti itu memang pahit untuk diceritakan. Hatiku tersayat oleh omonganku sendiri. Nasiblah yang begitu. Kuharap, ini sudah menjadi jawaban yang jelas mengapa aku tetap mencari nafkah.

            “Nak, ini ada tisu. Ambillah. Ini bisa sedikit meringankan peristiwa yang menyisakan luka. Belum berakhir bahagia. Tenanglah. Aku paham dengan kondisimu sekarang.” sahut Bapak Satpol PP. Ternyata, tidak ada rasa marah di wajah Bapak tersebut. Aku tidak paham dengan kondisnya sekarang. Pikirku, mengapa tidak marah ataupun berkata lebih jauh lagi. Malah, yang terjadi selanjutnya Bapak Satpol PP tersebut menyuruhku untuk istirahat sejenak. Beliau meninggalkanku. Akupun sangat senang dan membuat hatiku sedikit bernapas setelah diintrogasi tadi. Belum sempat sholat dzuhur, akupun minta izin dulu kepada Bapak Satpol PP untuk menunaikan di musolla panti sosial. Beliau membolehkanku.

            Aku lebih heran sekaligus senang sih, karena Bapak tersebut ingin mengajakku sholat berjamaah. Padahal aku belum menemukan jawaban apa yang terjadi setelah aku dibawa ke Panti. Malah kita bersama solat dzuhur. Tapi Alhamdulillah aku tidak menyangka Bapak tersebut memperlakukanku seperti ini. Seperti ada yang lain setelah ini. Entah apa yang jadi rahasia. Sudahlah. Aku ingin menikmatinya sesuai alurnya waktu.

            “Mari nak. Kita mulai waktunya sholat dzuhur.” ucap Bapak Satpol PP. Ajakan yang sangat menyejukkan hati. Membuatku lebih berpikir bahwa dibalik tegasnya aparat penertiban, segelintir dari mereka terbuat dari hati yang lembut. Kamipun dengan khusyuk menunaikan kewajiban umat Muslim. Berdoa demi tercapainya apa yang kita inginkan. Sungguh ini pengalaman yang bagiku sangat spesial. Spesial karena aku sholat di suasana yang baru dan tidak akan kutemui sebelumnya kecuali di tempat ini. Kami berdua sholat juga dengan para petugas di sana dan pedagang yang terjaring razia tadi. Suasananya sangat berbeda, penuh cerita. Sesudah sholat, mumpung ada Al-Quran aku sempatkan mengaji supaya pahala yang di dapat bertambah.

***
            Ini sudah hampir masuk jam 13.00. Kami sudah selsesai solat. Aku sudah tidak memikirkan nasib undangan yang ditawarkan Nifsa. Urusanku sekarang lebih penting dengan Bapak tersebut. Mungkin lain kali saja dan nanti aku akan minta maaf kalau bertemu dengan Nifsa. Di teras musolla yang bertingkat dua, ternyata Bapak Satpol PP memanggilku lalu mengajak duduk bersama. Sepertinya akan ada hal penting yang ingin disampaikan. “Nak Vian kemari. Ada yang ingin Bapak sampaikan.” panggil Bapak Satpol PP.

           Akupun langsung bergegas menghampirinya dan duduk bersama beliau. “Iya Bapak.” jawabku. “Oh ya. Panggil saja saya Pak Rudi.” ucap Bapak Rudi, Satpol PP. Bapak Rudi memulai perbincangan dengan topik bahwa beliau tadi diam-diam mendengarkanku mengaji. Aku memang kadang belajar mengaji lewat teman teman pedagang, selain dari apa yang kulihat dalam berjualan. Jadi ilmu agamaku makin bertambah. Beliau memujiku. Katanya, suaraku sangat merdu didengar dan layak ikut lomba mengaji. Aku hanya tersenyum dan sedikit malu dipuji seperti itu. Bayangkan saja siapa yang memujiku sekarang ini. Orang penuh hormat dan anggota ketertiban negara. Sungguh terasa sekali kelas sosial disini. Pedagang yang dipuji Satpol PP hanya karena tadi sempat membaca Al-Quran. Hatiku tambah gembira rasanya.

            Obrolan berikutnya, mengacu pada masalah ekonomiku tadi yang berlanjut mengenai kehidupanku yang terpinggirkan. Sesekali aku menangis dan merasa nyaman saja bisa bercerita dengan Bapak Rudi. Berbagi keluh kesah yang kuhadapi selama ini. Di usia remajaku yang berumur 16 tahun, aku baru sekali seumur hidup menangis dan berkeluh kesah dengan Bapak Rudi. Asing, tapi penuh wibawa seorang Satpol PP. Terhormat. Itu pandanganku sementara ini. Beliau mendengarkan dengan saksama. Tampak matanya sedikir berair yang menggambarkan bahwa beliau serius dan peduli sekali denganku sepertinya.

            Di tengah perbincangan hangat kami, aku terkejut bukan kepalang bahwa beliau juga menceritakan kehidupan pribadinya. Aku dengan serius mendengarkan ceritanya. Didapati bahwa Bapak Rudi punya nasib yang serupa tapi tidak sama. Jadi seperti ini, Beliau berasal dari keluarga tidak mampu dulunya. Itu terjadi sampai usianya 20 tahun. Menginjak usia tersebut, kehidupan sangat baik pada beliau. Bersahabat. Ibu yang penjual gorengan dan ayah yang buruh tani bekerja keras mengumpulkan uang. Akhirnya, beliau diterima bekerja sebagai Satpol PP. Itulah awal kebahagiaannya. Terharu sekali aku mendengarkannya. Aku bisa merasakan apa yang terjadi saat itu pada Bapak Rudi.

            Kali ini adalah air mata mengalir deras dari Bapak Rudi. Kali ini sepertinya puncak kesedihan yang ingin disampaikan. “Jadi begini, setelah saya sukses saya mengalami kehancuran. Ibu saya meninggal karena serangan jantung. Ayah saya saya juga meninggal satu tahun setelahnya karena kecelakaan kerja. Ayah saya tetap bekerja di sawah meski saya sudah melarangnya. Entah mengapa saya sempat berpikir bahwa semua ini salah saya yang lalai dalam menjaga orang tua.” Jelas Bapak Rudi. Air mata beliau mengucur deras. Terlihat ada sedikit rasa kecewa di mimik wajah beliau. Aku coba menenangkan dengan mengucap bahwa ini bukan kesalahan, ini adalah ujian terberat Bapak Rudi yang harus dilalui dengan sabar dan kekuatan. Insyaallah semua bisa melewatinya.

            Perbincangan ini sangat membuatku larut dalam segala suka dan duka. Bagaimana tidak, Pak Rudi yang awalnya berjuang dengan keras, setelah sukses malah kehilangan kedua orang tuanya. Aku dan Pak Rudi sama sama kehilangan kedua orang tua. Persamaan yang lain adalah, kami sama sama berjuang supaya meraih apa yang diinginkan, tetapi sukses belum berpihak padaku. Ibaratnya, aku masih berada di tangga dan Pak Rudi sudah mencapai puncak. Hanya tinggal meneruskan saja.

      Hingga tiba waktu yang membuat aku berpikir bahwa ini hanya mimpi. “Apakah ini mimpi?” bayangku. Sambungannya sangat membuatku sungguh terharu. “Apa mungkin hidup ini sudah berpihak kepadaku?” batinku. Astaga, aku tidak menyangka bahwa pertemuan oleh Pak Rudi, seorang Satpol PP yang menangkapku, membawa ke Panti Sosial, dan memang kusadari sikap bandelku yang masih berjualan, akan berakhir bahagia selamanya.

            “Tanpa pikir panjang lagi, langsung saja, bagaimana kalau nak Vian saya angkat menjadi anak saya?. Saya akan menyekolahkan nak Vian sampai menjadi orang yang sukses. Saya melakukan ini karena saya ingat dengan masa masa sebelum saya menjadi orang yang sukses. Tenang saja. Istri saya sudah pasti mau menerima Nak Vian. Istri saya sedang mengandung anak pertama. Harus mau ya?”. Ya Allah kejadian macam apa ini. sangat singkat, berbeda juga penuh kejutan. Seketika itu juga aku hanya bisa terdiam. Belum bisa berkata apapun. Kalaupun aku ikut Pak Rudi, apakah kebersamaan temanku berjualan akan hilang?. Padahal hal itu juga yang membuat aku bisa bertahan dalam mencari penghasilan.

            “Dan pasti Bapak tahu. Nak Vian memikirkan bagaimana teman Nak Vian yang menemani selama berjualan. Tenang saja. Nak vian masih bisa menemuinya. Nanti kita adakan acara makan makan. Sudahlah Nak Vian. Mari ikut saya.”. Alhamdulillah akhirnya inilah akhir dari segala peristiwa hari ini. Siapa yang ingin menolak lagi. Akupun mengucapkan terima kasih yang sebenarnya itu tidak cukup untuk membalas niat baik Bapak Rudi.

            “Ya Allah Bapak Rudi. Terima kasih banyak ya Pak. Saya tidak tahu lagi harus berkata apa. Bapak yang mau menjadikan saya sukses hanya dengan pertemuan ini. Bapak adalah orang yang Allah kirimkan untuk membuat saya menjadi lebih baik. Saya berjanji Pak akan terus berjuang demi meraih sukses. Orang tua saya pasti bahagia.” ucapku. Aku mengucapkannya dengan bibir gemetaran. Air mataku juga menetes haru. Aku tidak bisa berpikir lebih jauh lagi. Pak Rudi memelukku erat penuh kasih sayang yang lantas mengajakku untuk ikut pulang bersamanya.

            “Sudah ya Nak Vian. Jangan bersedih lagi. Mari ikut saya pulang. Mungkin juga momen seperti ini yang bisa membuat kita bertemu. Hati saya luluh, tersentuh, sekaligus ada yang membuat saya ingin menjadikan Nak Vian sukses. Nak Vian adalah orang beruntung yang saya temui. Bersyukur, karena masih banyak diluaran sana yang nasib hampir sama dan mereka masih berjuang seperti Nak Vian. Ayo kita pulang bersama.” jelas Pak Rudi. Seketika itu juga aku meninggalkan musolla dan menghapus air mata. Cengengnya aku, tetapi ini bukan cengeng yang kekanakan. Aku menyikapinya dengan lebih jernih.

            Lantas, semua ini adalah kebetulan sekaligus takdir yang membuat hidupku berubah. Aku akan selalu mendoakan dan membuat Bapak Rudi seperti orang tuaku sendiri. Jasa yang tidak akan pernah bisa dihitung dan diganti dengan apapun. Hanya kita saja yang harus membuktikan bahwa kita bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Sungguh, dalam perjalanan pulangku ke rumah Pak Rudi mataku hanya menengok kaca mobil. Masih dipenuhi lensa yang nyata adanya. Bukan mimpi.

            Aku berterima kasih kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan cahaya setelah badai berlalu. Itu pasti. Pak Rudi, seorang Satpol PP sang penertib jalanan yang berhati dermawan. Semoga, setelah ini masih banyak orang orang yang berhati sama seperti Pak Rudi. Baiknya, sikapnya, jasanya, dan semuanya tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata saja. Selamanya aku menyayangi Pak Rudi.

-Selesai-

Penulis : Lidia Alfi Anisa

Kabinet Aksata Rahagi: Beraksi Bersama, Berdaya Inspirasi

Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen 2025 Kabinet Aksata Rahagi adalah organisasi yang hadir sebagai wadah dinamis bagi mahasiswa untuk berkembang, bersuara, dan bersinar. Di sini, setiap langkah dan ide mahasiswa dihargai seperti bintang yang menyemarakkan malam. HMJM bukan sekadar organisasi, melainkan ruang kolaborasi penuh semangat yang memupuk aspirasi, mempertemukan mimpi, dan mendorong potensi. Dengan program kerja yang kreatif, terbuka, dan relevan, kami hadir untuk menjawab kebutuhan para mahasiswa S1 Manajemen masa depan. Yuk, jadi bagian dari perjalanan luar biasa ini dan lihat apa yang bisa kita capai bersama. Let’s light up the sky together with HMJM. HMJM, We Believe We Can Do It!