Penertib Jalanan Berhati Dermawan
Riuhnya suasana di luar ruangan,
sangat berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam suasana hatiku. Kurasakan
hanya temeram cahaya yang menyelimuti perasaan saat ini. Tidak pernah
terbayangkan sebelumnya bahwa hari ini tidak sama dari hari-hari sebelumnya.
Bukannya malah membaik, tetapi keadaan yang riuh dan kacau semakin semerbak
kesana kemari. Tidak karuan datang silih berganti dari hari ke hari. Ingin aku
bebas dari jeratan suasana yang buruk ini. Bahkan, sinar mentari yang terbit
dari timur memancarkan cahaya yang surut kelabu. Biasanya sinar tersebut
bercahaya dengan warna jingga yang menyiratkan pesan kebahagiaan. Entah apa
yang aku alami sekarang ini sama atau tidak dengan yang dirasakan orang lain.
Hidupku memang tidak seberuntung
orang kebanyakan, sehingga dalam kondisi seperti ini aku semakin terpuruk. Biasanya
setiap memulai hari aku sudah berjualan kesana kemari, tetapi sekarang hanya
segelintir tempat yang bisa aku singgahi. Menjajakan dagangan yang kugelar di
pinggir jalan supaya banyak orang yang melihatnya, lalu orang tersebut akhirnya
tertarik untuk membeli. Tempat berjualanku juga tidak menetap pada satu tempat
saja. Kalau masih sedikit pembeli, maka aku akan mengangkuti barang daganganku
ke tempat yang lainnya. Selain di pinggir jalan, aku juga berjualan di tempat
tempat umum yang terdapat hilir mudik orang sana sini, seperti di Taman Kota
Srikandi, pasar, Pelabuhan Dum, depan SD, dan masih banyak lagi. Apalagi kalau
ada event event yang diselenggarakan
oleh Bapak Bupati. Pasti aku tidak pernah absen untuk menempati posisi
terbaikku untuk berjualan.
Kondisi yang terpuruk belakangan
ini, membuat aku rindu dengan suasana keramaian. Ramaiku tentu bukan untuk
bersenang senang, tetapi hidup berjuang supaya kebutuhan sehari hari terpenuhi.
Aku putus sekolah sejak usia kelas 4 SD dan sekarang aku harusnya sudah duduk
di bangku SMA. Penyebabnya ialah ibuku meninggal akbiat serangan jantung dan
ayahku pergi meninggalkanku entah kemana setelah seminggu kepergian ibu. Aku
bahkan tidak tahu penyebabnya. Jangan tanya soal hubungan kerabat keluarga. Aku
hanya hidup dengan kedua orang tuaku. Mereka jauh hidup di perantauan tanpa
pernah peduli dengan nasib yang aku alami. Selain itu, mereka saja tidak datang
waktu ibu meninggal. Hanya tetangga saja yang turut hadir dalam prosesi
pemakaman.
Selepas kejadian tersebut, aku
memilih untuk hidup dengan fokus mencari nafkah. Memang kalau dipikir
kejadiannya menyakitkan dan membuat aku hancur pada waktu itu, tetapi aku tidak
pernah membenci ayah sama sekali. Aku sadar bahwa tanpa kedua orang tuaku aku
tidak pernah bisa hidup dalam dunia yang penuh dengan perjuangan seperti ini.
Lahir untuk menjadi anak yang mandiri. Aku akan selamanya menyayangi mereka.
***
Padahal sekarang adalah hari
kemenangan bagi setiap umat muslim di seluruh dunia, khususnya di Indonesia.
Biasanya aku merayakan hanya dengan sholat Idul Fitri lalu makan makanan yang diberikan sesama pedagang dan yang paling penting adalah kumpul bersama, sehingga
suasana kebersamaan tercipta erat. Itu saja sudah cukup. Entah makanannya enak
atau tidak, aku tidak peduli. Semua yang berupa wujud hilang sirna begitu saja.
Kasih sayang dan kebersamaan inilah yang paling aku cintai. Jangan tanya soal
baju baju baru. Mungkin uangku hanya cukup untuk membeli baju bekas seharga 50.000, tetapi hal tersebut tidak pernah aku lakukan. Pikirku percuma beli yang
seperti itu. Sama sekali tidak mengenyangkan perut. Tidak bisa memuaskan rasa
lapar dan dahaga selama hidup ini.
Apalah mau di kata. Sumber utama
penyebab semua ini adalah Virus Corona yang sudah menjadi pandemi di bumi.
Jutaan orang positif akan keberadaan virus ini. Belum lagi yang meninggal sudah
mencapai ratusan ribu. Semua kehidupan menjadi kacau dan jauh berbeda. Termasuk
di Indonesia yang peningkatan virus Corona masih terus terjadi dari hari ke
hari. Tidak tahu sampai kapan kondisi ini akan berakhir. Sudah berbulan bulan
lamanya peraturan mengharuskan kita semua untuk tetap aman dengan berada di rumah.
Aman di rumah bukan membuat hidup
semakin membaik. Justru inilah yang membuat nafkah pencarianku tersendat.
Bahkan dalam sehari aku tidak mendapat uang sepeserpun. Daganganku hanya snack snack, cilok, dan minuman yang
tertata rapi dalam pikulan yang biasa kugelar di jalanan. Semacam penjual sate
yang biasa berkeliling dari rumah ke rumah itu. Dari mulai subuh sehabis sahur,
aku sudah menata dagangan untuk kujual. Hasilnya memang menurun drastis, tetapi
mau bagaimana lagi. Tuntutan untuk hidup terus membuatku untuk melakukan
pekerjaan ini.
***
Idul Fitri hari ini sudah di depan
mata. Suara takbir menggema saling bersahut sahutan disertai dengan suara
pukulan bedug. Allahu Akbar 3x,
laillahaillahuallahu akbar, allahu akbar waillailham. Idul Fitri 1441 H ini
jatuh pada Hari Minggu. Melakukan solat Idul Fitri ini diimbau untuk di rumah saja.
Tapi, bukan seluruhnya yang melakukan ibadah di rumah. Dengan syarat tertentu
dan yang utama penerapan protokol kesehatan, solat Idul Fitri berjamaah masih
tetap bisa dilakukan. Termasuk masjid yang ada di daerah tempat tinggalku.
Alhamdulillah masih aman. Jadi, meskipun kali ini nasib begitu tidak mau
bersahabat denganku, aku tetap melakukan solat Ied di masjid.
Sebelum menjelang shubuh, aku tetap
melakukan kewajibanku untuk menyiapkan barang dagangan yang nantinya akan kupakai
jualan setelah Sholat Ied selesai, supaya uang sedikit banyak masuk ke dalam
penghidupan. Sebenarnya aku tidak yakin akan datang satu orang untuk membeli
barang daganganku, tetapi yang paling penting usaha tetap kulakukan demi
menyambung hidup. Di momen Lebaran seperti ini, aku tetap rajin membuat cilok
dan menyiapkan yang lainnya meski modalnya sedikit. Padahal belum pernah
sebelumnya pada momen Lebaran aku berjualan. Tapi tidak apa apa. Aku ikhlas juga
menjalaninya.
Setelah semuanya selesai menyiapkan
barang dagangan, aku bergegas untuk melaksanakan sholat subuh sebagai kewajiban
setiap umat Muslim. Aku memang tidak pandai dalam pengetahuan, tetapi aku tetap
mempelajari bagaimana caranya bersikap dan beribadah lewat apa yang kulihat di
kehidupan sehari hari. Kadang tambahannya melalui radio dan TV yang kudengar
setiap aku lalu lalang berjualan. Lumayan menambah ilmu selagi tetap melakukan
kewajiban, yaitu berjualan.
***
Terdengarlah suara ketukan pintu. (Sambil mengetuk pintu) “Assalamualaikum
Vian” sapa temanku berjualan. “Waalaikumsalam.” sambil membuka pintu.
“Eh, Nifsa. Mari silahkan masuk.” jawabaku. Aku pun mempersilahkan Nifsa untuk
duduk di bawah gelaran koran. Rumahku yang terbuat dari gedhek (anyaman bambu) dan kardus memang sangat memprihatinkan dan
tidak layak huni. Aku memilih untuk meninggalkan rumah setelah uang santunan
dan bantuan yang kuterima setelah Ibu meninggal selama 2 tahun sudah habis. Aku
takut tidak bisa membayarnya.
Nifsa adalah temanku berjualan. Dia
ikut bersamaku untuk menjajakan dagangan, tetapi itu jarang, karena memang
barang dagangan kami berbeda dan tempat yang dituju juga pasti berbeda
menyesuaikan kebutuhan. Nifsa berjualan pakaian. Hubungan kami bisa akrab karena
nasib kami sama. Ya mana mungkin orang dari kalangan lebih layak ada yang mau
berteman dengan kami. Bagiku, meski sama-sama punya nasib yang tidak beruntung,
tetapi pertemanan tetaplah hal yang utama. Manusia memang diciptakan sebagai
makhluk sosial yang saling melengkapi.
Kami pun mengobrol di ruang
beralaskan gelaran koran sebelum berangkat beribadah ke Masjid. “Singkat saja
Vian kedatanganku kemari. Aku ingin menyampaikan bahwa nanti jam 13.00 ada
acara makan kecil kecilan dariku.” jelas Nifsa. Rupanya Nifsa mengundangku untuk
menghadiri acara makan-makan nanti siang.
Aku mulai memikirkan hal tersebut,
karena tidak mungkin juga aku terlena pada Lebaran kali ini dengan menghadiri
acara tersebut. Nafkah harus kuutamakan sepertinya. Bukannya aku egois dengan
acuh pada undangan Nifsa. Nasib begitu menjeratku sekarang. Maka aku jawab
tawaran Nifsa dengan ketidakpastian. “Baiklah Nifsa. Tapi aku pikirkan hal ini
terlebih dulu, karena masih ada urusan yang harus kuselesaikan.” jawabku.
“Jadi begitu ya Vian. Iya sudah
tidak apa-apa. Ini juga aku mengundangmu karena ada rezeki lebih dariku.” sahut
Nifsa. Sepertinya Nifsa kali ini lebih beruntung dariku. Hati perempuan berumur
16 tahun ini sungguh baik. Dia memang tidak pernah lupa pada kondisi temannya
disaat apapun. Akupun hanya bisa ikut senang dan membatin dalam hati, “Kapan
aku bisa seperti Nifsa?”. Ketika berbuat baik, kita tidak sama sekali mengalami
kerugian.
Selepas obrolan kami yang membahas
mengenai undangan makan makan kecil di rumah Nifsa, Nifsa pun pamit untuk
segera pulang. “Baiklah Vian. Aku lekas pulang untuk sholat bersama Pak Samat.
Assalamualaikum Vian” pamit Nifsa. Tunggu dulu. Nifsa itu tidak punya rumah. Dia
diajak numpang di rumah Pak Samat, pedagang sayur. Hidupnya sama sepertiku.
Kondisi keluarganya juga yang mengharuskan Nifsa untuk hidup mandiri sama
sepertiku. Aku tidak menawarinya untuk ikut Sholat Ied bersama di masjid
daerahku, karena sudah pasti Nifsa sholat bersama Pak Samat yang sudah mau
membantu hidupnya selama ini yang sudah dianggap seperti keluarga.
***
Akupun mempersilahkan Nifsa pulang.
Setelahnya, aku mesti bersiap untuk berangkat ke Masjid. Aku ambil tumpukan
baju yang kondisinya masih layak untuk dipakai ketika sholat nanti. Aku berwudhu,
merapikan semuanya, dan bergegas untuk meninggalkan rumah sejenak untuk ikut
ibadah mensucikan diri meraih hati yang lebih bersih lagi. Pintu rumah hanya
kututup biasa, karena memang tidak ada kuncinya. Tepat pukul 05.45 aku berjalan
kaki menyusuri sawah dan kebun karena memang rumahku agak terpencil letaknya.
Tidak jauh kok jaraknya, hanya 10 menit aku sudah sampai Masjid.
***
Suasana sawah dan kebun yang
kulewati sejuk dan segar. Apalagi kalau cuacanya masih pagi seperti ini. Sangat
bagus untuk kesehatan, selain untuk memanjakan mata yang melewatinya. Tapi untuk
kali ini aku harus agak ngebut
secepat kilat, karena kalau telat tidak bisa sholat Ied. Percuma juga sudah
jalan kaki, tetapi malah tidak membuahkan hasil.
Banyak orang yang lalu lalang ngebut melewatiku. Ada yang jalan kaki,
menggunakan sepeda ontel, dan sepeda motor. Itu pasti dari RT sebelah. Jalanan
dari rumah ke Masjid memang kondisinya rusak, karena dana yang diberikan
katanya hanya cukup untuk keperluan perbaikan fasilitas umum. Maka dari itu,
jalan yang kulalui berkerikil dan sudah retak retak tanahnya.
“Halo Dek Vian. Kok ngebut sekali. Nanti kamu capek lho.
Sini bareng saya saja ke Masjidnya naik sepeda ontel.” sapa Pak Danar. Di tengah
perjalanan kurang lebih 5 menit lagi untuk mencapai Masjid, ada yang
memanggilku. Akupun menoleh dan balik membalas salam yang ternyata itu adalah
Pak Danar. Pak Danar adalah penyapu jalanan yang rumahnya di RT sebelah.
Terkadang ketika berjualan aku bertemu dengannya. Dia belum menikah, karena
mungkin masih harus memenuhi ekonomi hidupnya. Maka akupun dengan senang hati menerima
tawaran dan berbocengan dengan Pak Danar.
***
“Alhamdulillah akhirnya sampai.
Terima kasih ya Pak Danar. Semoga Allah SWT senantiasa membalas kebaikan Pak
Danar.” ucapku. Pak Danar juga sumringah
ketika mendengar ucapan terima kasihku. Aku memang hanya bisa berucap, tetapi
tidak bisa memberi apa apa karena keterbatasan ekonomi. Pak Danar pun tetap
senang karena paham akan kondisiku.
Tidak perlu berbasa basi lagi,
kamipun lekas menempati posisi sholat yang tersedia. Aku dan Pak Danar sejajar
tempat sholatnya, karena siapa lagi yang bisa kuajak bersama. Gemuruh dan
keriaan memang terasa ketika kita sudah sampai Masjid. Umat muslim bahagia menyambut
hari raya kemenangan, yaitu Idul Fitri. Meskipun di tengah pandemi Corona
seperti ini, momen yang begitu suci masih hangat terasa. Bedug dipukul dengan
gemuruh suara takbir yang selepas itu dilanjutkan dengan solat berjamaah.
Akupun mengikuti segalanya dengan khusyuk. Khotbah pun nanti tidak lupa ku resapi.
Aku ambil hikmahnya dari apa yang disampaikan penceramah.
Satu setengah jam berlalu,
Akhirnya rangkaian Solat Ied 1441 H
ini selesai. Hatiku rasanya semakin tenang dan bersih setelah mengikutinya.
Alhamdulillah ada hikmah yang kudapat pada Lebaran ini. Para jamaah pun lekas bergegas
pulang. Jamaah kali ini tidak memenuhi Masjid. Sepertinya ada yang beribadah di
rumah bersama keluarganya. Protokol kesehatan tetap di taati dengan menjaga
jarak dan penyediaan hand sanitizer
di Masjid. Semuanya aman terkendali sampai acara selesai.
Akupun diantar pulang kembali oleh
Pak Danar, tetapi tidak sampai rumah karena RT kami berbeda. Jarak antara
rumahku dan Pak Danar lumayan cukup jauh. Aku diturunkan di tengah jalan sama
seperti Pak Danar ketika menawariku untuk berangkat bersamanya. “Sampai sini
saja ya Vian. Kondisi yang tidak memungkinkan membuat Vian saya turunkan
disini. Maaf ya Vian.” kata Pak Danar. Akupun mengucapkan terima kasih banyak
dan mengatakan tidak perlu minta maaf. Memang adanya seperti ini. Tidak ada
yang salah. Lalu, setelah Pak Danar pergi aku melanjutkan perjalan pulang ke
rumah dengan jalan santai, karena sudah tidak ada urusan yang menurutku harus
tepat waktu. Hanya saja nanti aku akan istirahat sebentar untuk setelah itu
berjualan.
***
Sesampainya di rumah, aku menengguk
air putih lalu duduk sebentar untuk sekedar melepas dahaga dan keringat. Ku
tenangkan diriku, kunikmati hawa suasana Lebaran meski tidak sepenuhnya. Letak
tempat tinggalku memang terpencil. Tapi adalah 2 sampai 3 rumah yang itupun
letaknya tidak berjajar. Rumah itu di huni oleh orang yang nasibnya kurang
mampu sama sepertiku. Maka dari itu, untuk hawa Lebaran sepatutnya hanya bisa
kurasakan lebih manfaatnya pada saat berada di Masjid, karena disini sepi. Jadi
kalau sepi, aku biasanya langsung ke para pedagang yang senasib untuk sekedar
menikmati momen Lebaran bersama.
Sesudah beristirahat, aku bergegas
berganti kaos tipis yang sudah ada lubang di pundak kiri kanannya, akibat berat
dagangan yang kupikul. Berat rasanya kali ini harus kujalani, walaupun
sebelumnya juga tidak terlalu beruntung. Ini momen terparah yang kualami. Tapi
mau bagaimana lagi. Mendapatkan uang sudah jadi kewajibanku.
Pikulan yang berisi dagangan sudah
kutata sejak subuh tadi. Aku bisa dapat bahan dagangan karena aku yang menjualkannya.
Jadi seperti ini, aku mengambil barang di penjual, setelah itu aku jualkan
kembali dan hasilnya dibagi dua. Untuk yang ciloknya, aku membuat dari hasil
berjualan. Alhamdulillah selama ini masih ada dan dan sekarang aku hanya
tinggal berangkat mengais rezeki di tengah momen kebahagiaan seperti ini. Topi
lusuh kupakai, dagangan kupikul, kututup pintu rumah, dan akhirnya berangkat
mengais nafkah.
***
Sekitar pukul 09.00 pagi, aku mulai
menyusuri jalanan untuk menjajakan dagangan. Suasana lengang dan udara yang
sedikit tercemar membuat aku masih bersemangat menikmati hari. Deru kendaraan dan
suara bising knalpot renggan memenuhi jalanan. Hanya segelintir orang yang riwa riwi untuk mengunjungi sanak
keluarga dengan berpakaian muslim.
Memang aneh rasanya kalau dipikir
pikir berlebaran seperti ini masih ada orang yang berjualan. Padahal sudah
pasti kalau Lebaran jalanan lengang karena yang berjualan tidak ada. Tapi itu
dulu. Sekarang lain lagi ceritanya. Langkah demi langkah terus kususuri demi mendapat
nafkah. Jaraknya jauh memang kalau aku berjualan, karena jualanku di kota,
bukan semacam desa. Kurang lebih sekitar 3 km untuk sampai ke kota. Ini memang
sudah menjadi rutinitas rutin yang aku lakukan dengan berjalan kaki.
***
Tepat di pinggiran Taman Kota yang
kurang lebih aku telah menempuh waktu satu jam, lalu akupun menggelar dagangan.
Alhamdulillah perjalananku baik baik saja, tidak ada yang bersikap buruk
kepadaku. Keringatpun hanya sedikit menetesnya. Tidak terlalu melelahkan.
Suasana Taman Kota Srikandi yang bersih karena tidak ada pengunjung membuatku
nyaman nyaman saja berjualan. Segar dan wanginya bunga yang bermekaran
membuatku betah berlama lama. Lantas, aku mulai berpikir untuk membatalkan
undangan Nifsa. Disini sangat mendukung kehidupanku.
Mulai dari cilok, snack yang disukai anak kecil, dan
minuman yang menyegarkan aku tata sedemikian rupa agar menarik minat pembeli.
Tidak khayal lantas banyak yang laku, meskipun aku yakin tidak bisa habis dalam
sehari. Butuh kesabaran dalam hal menunggu pembeli. Apalagi di tengah kondisi
yang rumit sekarang. Tapi aku harus terus mengerahkan segala tenaga agar
mencapai hasil yang maksimal. “Beli beli beli. Ayo dibeli. Yang haus, yang
lapar bisa singgah sebentar. Dijamin tenaga terisi.” ucapku saat menjajakan
dagangan. Sesekali pun aku istirahat dan kubiarkan setiap orang lewat melihat
daganganku tanpa aku harus lelah berbicara.
Di Taman Kota Srikandi hanya ada aku
dan dua orang pedagang yang berjualan. Letaknya pun cukup berjauhan. Mereka
sama sama mengais rezeki. Aku tidak kenal dengan para pedagang tersebut, karena
temanku yang lain sepertinya memilih tempat yang baru untuk berjualan agar
lakunya bisa cepat. Suasana semakin sepi dari menit ke menit. Hembusan angin
yang menerpa terkadang membuat mengantuk. Sesekali juga, tidak lupa aku mengaji
demi membuat pikiran ini lebih tenang dan mengatasi rasa kantuk. Sekiranya
hanya ada puluhan kendaraan yang lewat selama beberapa jam.
Belum ada satupun pembeli yang
mampir ke daganganku. Bahkan panas terik matahari sudah semakin menyengat.
Meresap ke kulit dan membuat hawa gerah bertambah saja. Lantas sepertinya ini
sudah masuk pukul 12.00. Lalu akupun bergegas berwudhu di toilet umum untuk
tetap sholat dzuhur.
***
“Ayo ayo ayo yang masih jualan
jangan kabur. Anda sekalian kami tangkap. Razia darurat. Ayo ayo jangan lari. Sudah
tidak ada pengampunan.” suara petugas. Suara yang terdengar lamat lamat oleh
Vian, karena jaraknya masih jauh.
Dan ketika aku selesai dari
berwudhu, terdengar bunyi sirene yang sepertinya berarti pengusiran. Akupun
terkejut bukan kepalang. “Suara apa itu. Apa sepertinya ada petugas yang ingin
mengusirku.” kata Vian. Jantungku mulai berdegup kencang. Pikiranku tidak
karuan. Apa yang akan terjadi selanjutnya. Lantas, tanpa pikir panjang akupun lari
sekencangnya demi menengok dagangan yang berada kurang lebih 1 km dari tempatku
berwudhu.
Sesampainya di tempat jualan,
ternyata itu adalah para Satpol PP yang mengambil daganganku. “Pak jangan
diambil Pak. Saya mau makan apa nanti Pak.” ucapku yang memohon sambil berderai
air mata. Ternyata mereka mau merazia para pedangang yang masih nekat
berjualan. Lalu satu persatu daganganku raib diambil oleh Satpol PP. Tidak ada
yang bersisa. Diangkuti ke mobil yang mereka bawa. Suasana semakin riuh ketka
aku menangis sekencangnya tapi tidak dipedulikan, lalu aku juga tidak
ketinggalan dimasukkan ke dalam mobil razia bersama dua pedagang lain. Aku
sempat meronta, menolak untuk diajak. Tapi semua itu sia sia. Mereka tetap
membawaku ikut bersama barang dagangan.
Di perjalanan aku hanya bisa
menangis. Dua pedagang lainnya juga ikut sedih tanpa meneteskan air mata.
Mungkin mereka lebih memilih untuk memendam kesedihannya. Semua yang kulewati
dan yang kulihat kosong dan tidak berwarna. Suasana jalan sudah tidak bisa kulihat.
Tidak ada suasana yang baik disini. Bahkan, walaupun ada seorang pedagang yang
coba menenangkanku untuk berhenti menangis sungguh tidak aku hiraukan. “Nak,
sudah ya. Jangan menangis terus. Kita sama sama dalam kondisi seperti ini.
Semua akan baik baik saja. Insyaallah.” ucap seorang pedagang. Ucapan yang
keliru. Mana mungkin kondisi akan baik seperti semula. Mereka hanya coba
membuatku tidak menangis. Itu saja. Tidak ada ketenangan. Selebihnya, sudah
pasti ini bencana bagiku.
***
“Ayo turun. Sekarang kalian ada di
panti sosial. Sisanya nanti kalian urus.” ucap salah seorang Satpol PP. Tempat
yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Dalam hati, sebenarnya aku juga
pasti akan menanggung resiko kalau tetap berjualan di masa Corona. Pikirku, aku
tidak menyesali sama sekali terhadap apa yang terjadi dan juga tidak pernah
membenci Satpol PP. Mereka petugas yang hebat. Rela bekerja demi menertibkan
kami para pedagang. Kalau tidak ada mereka yang bertugas, siapa lagi yang
membuat pandemi ini lebih cepat berakhir. Lalu, yang membuatku sedih hanyalah bagaimana
nasibku selanjutnya. Sungguh ketidakpastian yang abstrak. Tapi akupun masih
bersyukur. Untung mereka membawaku ke panti sosial. Setidaknya tempatnya tidak
mengerikan.
Bapak Satpol PP menggangdengku masuk
ke ruangan. Panti tersebut aneh, karena aku tidak menemukan satupun orang yang
nasibnya sepertiku ikut tertangkap. Hanya kami bertiga para pedagang. Akupun
dibawa ke ruangan khusus dengan pintu tertutup. Dua lainnya di tempat berbeda.
Ini sudah jelas kami akan diintrogasi. Bertanya ini itu sampai menemukan
jawaban yang memuaskan. Akupun menjawab satu per satu dengan alasan yang
sejujur jujurnya.
Hanya ada dua orang saja antara aku
dan Pak Satpol PP cukup membuatku cemas juga dalam menjawab pertanyaan. Aku
berhenti menangis. Bapak yang gagah sekarang berada berhadapan. Pertanyaan satu
demi satu terlontarkan yang arahnya mengapa masih tetap berjualan. Intinya itu.
Kujawab saja dengan lugas, padat, dan jelas. “Nak, mengapa kamu masih
berjualan?” tanya Pak Satpol PP. Tanya dengan lembut yang membuat aku sedikit
tenang dan santai dalam menjawabnya. Sungguh dibalik tubuh fisik gagah dan
kuat, Pak Satpol PP sudah seperti keluarga yang menasihatiku di dalam obrolan
kami.
“Saya tetap berjualan untuk memenuhi
ekonomi Pak” jawabku. Apalagi yang harus kujawab. Intinya kan itu. Lantas,
berulang kali jawabanku sama seperti itu maka inilah pertanyaan yang sebenarnya
berat untuk kujawab. Rasa sesak mulai muncul di dada. Melihat nasibku yang
malang seperti ini mau beruubah jadi lebih baik tidak tahu waktunya. Akupun
menangis menjawab pertanyaan Bapak Satpol PP. Bapak tersebut bertanya, “Pasti
ada alasan lain nak mengapa kamu terus berjualan. Ayah ibumu mana? Apa mereka
tidak kasih uang?.”
“Maaf sebelumnya Pak. Saya hidup sendiri.
Ibu saya meninggal ketika saya kelas 4 SD. Ayah saya pergi entah kemana tanpa
satupun alasan. Kerabat saya jauh disana. Tidak tahu dimana. Tidak ada yang
mengunjungi pemakaman Ibu. Untuk itulah saya hidup mandiri. Jangan tanya soal
rumah Pak. Saya tidak punya rumah layak/peninggalan. Bangunan kardus dan koran
cukup bagi saya.” jelasku. Aku sudah tidak tahan lagi untuk menangis sebanyak
banyaknya. Mengenang hal seperti itu memang pahit untuk diceritakan. Hatiku
tersayat oleh omonganku sendiri. Nasiblah yang begitu. Kuharap, ini sudah
menjadi jawaban yang jelas mengapa aku tetap mencari nafkah.
“Nak, ini ada tisu. Ambillah. Ini
bisa sedikit meringankan peristiwa yang menyisakan luka. Belum berakhir
bahagia. Tenanglah. Aku paham dengan kondisimu sekarang.” sahut Bapak Satpol PP.
Ternyata, tidak ada rasa marah di wajah Bapak tersebut. Aku tidak paham dengan
kondisnya sekarang. Pikirku, mengapa tidak marah ataupun berkata lebih jauh
lagi. Malah, yang terjadi selanjutnya Bapak Satpol PP tersebut menyuruhku untuk
istirahat sejenak. Beliau meninggalkanku. Akupun sangat senang dan membuat
hatiku sedikit bernapas setelah diintrogasi tadi. Belum sempat sholat dzuhur,
akupun minta izin dulu kepada Bapak Satpol PP untuk menunaikan di musolla panti
sosial. Beliau membolehkanku.
Aku lebih heran sekaligus senang
sih, karena Bapak tersebut ingin mengajakku sholat berjamaah. Padahal aku belum
menemukan jawaban apa yang terjadi setelah aku dibawa ke Panti. Malah kita
bersama solat dzuhur. Tapi Alhamdulillah aku tidak menyangka Bapak tersebut
memperlakukanku seperti ini. Seperti ada yang lain setelah ini. Entah apa yang
jadi rahasia. Sudahlah. Aku ingin menikmatinya sesuai alurnya waktu.
“Mari nak. Kita mulai waktunya
sholat dzuhur.” ucap Bapak Satpol PP. Ajakan yang sangat menyejukkan hati.
Membuatku lebih berpikir bahwa dibalik tegasnya aparat penertiban, segelintir
dari mereka terbuat dari hati yang lembut. Kamipun dengan khusyuk menunaikan
kewajiban umat Muslim. Berdoa demi tercapainya apa yang kita inginkan. Sungguh
ini pengalaman yang bagiku sangat spesial. Spesial karena aku sholat di suasana
yang baru dan tidak akan kutemui sebelumnya kecuali di tempat ini. Kami berdua
sholat juga dengan para petugas di sana dan pedagang yang terjaring razia tadi.
Suasananya sangat berbeda, penuh cerita. Sesudah sholat, mumpung ada Al-Quran
aku sempatkan mengaji supaya pahala yang di dapat bertambah.
***
Ini sudah hampir masuk jam 13.00.
Kami sudah selsesai solat. Aku sudah tidak memikirkan nasib undangan yang
ditawarkan Nifsa. Urusanku sekarang lebih penting dengan Bapak tersebut.
Mungkin lain kali saja dan nanti aku akan minta maaf kalau bertemu dengan
Nifsa. Di teras musolla yang bertingkat dua, ternyata Bapak Satpol PP
memanggilku lalu mengajak duduk bersama. Sepertinya akan ada hal penting yang
ingin disampaikan. “Nak Vian kemari. Ada yang ingin Bapak sampaikan.” panggil
Bapak Satpol PP.
Akupun langsung bergegas
menghampirinya dan duduk bersama beliau. “Iya Bapak.” jawabku. “Oh ya. Panggil
saja saya Pak Rudi.” ucap Bapak Rudi, Satpol PP. Bapak Rudi memulai perbincangan
dengan topik bahwa beliau tadi diam-diam mendengarkanku mengaji. Aku memang
kadang belajar mengaji lewat teman teman pedagang, selain dari apa yang kulihat
dalam berjualan. Jadi ilmu agamaku makin bertambah. Beliau memujiku. Katanya,
suaraku sangat merdu didengar dan layak ikut lomba mengaji. Aku hanya tersenyum
dan sedikit malu dipuji seperti itu. Bayangkan saja siapa yang memujiku
sekarang ini. Orang penuh hormat dan anggota ketertiban negara. Sungguh terasa
sekali kelas sosial disini. Pedagang yang dipuji Satpol PP hanya karena tadi
sempat membaca Al-Quran. Hatiku tambah gembira rasanya.
Obrolan berikutnya, mengacu pada
masalah ekonomiku tadi yang berlanjut mengenai kehidupanku yang terpinggirkan.
Sesekali aku menangis dan merasa nyaman saja bisa bercerita dengan Bapak Rudi.
Berbagi keluh kesah yang kuhadapi selama ini. Di usia remajaku yang berumur 16
tahun, aku baru sekali seumur hidup menangis dan berkeluh kesah dengan Bapak
Rudi. Asing, tapi penuh wibawa seorang Satpol PP. Terhormat. Itu pandanganku
sementara ini. Beliau mendengarkan dengan saksama. Tampak matanya sedikir
berair yang menggambarkan bahwa beliau serius dan peduli sekali denganku
sepertinya.
Di tengah perbincangan hangat kami, aku terkejut bukan
kepalang bahwa beliau juga menceritakan kehidupan pribadinya. Aku dengan serius
mendengarkan ceritanya. Didapati bahwa Bapak Rudi punya nasib yang serupa tapi
tidak sama. Jadi seperti ini, Beliau berasal dari keluarga tidak mampu dulunya.
Itu terjadi sampai usianya 20 tahun. Menginjak usia tersebut, kehidupan sangat
baik pada beliau. Bersahabat. Ibu yang penjual gorengan dan ayah yang buruh
tani bekerja keras mengumpulkan uang. Akhirnya, beliau diterima bekerja sebagai
Satpol PP. Itulah awal kebahagiaannya. Terharu sekali aku mendengarkannya. Aku
bisa merasakan apa yang terjadi saat itu pada Bapak Rudi.
Kali ini adalah air mata mengalir deras dari Bapak Rudi.
Kali ini sepertinya puncak kesedihan yang ingin disampaikan. “Jadi begini,
setelah saya sukses saya mengalami kehancuran. Ibu saya meninggal karena
serangan jantung. Ayah saya saya juga meninggal satu tahun setelahnya karena
kecelakaan kerja. Ayah saya tetap bekerja di sawah meski saya sudah
melarangnya. Entah mengapa saya sempat berpikir bahwa semua ini salah saya yang
lalai dalam menjaga orang tua.” Jelas Bapak Rudi. Air mata beliau mengucur
deras. Terlihat ada sedikit rasa kecewa di mimik wajah beliau. Aku coba
menenangkan dengan mengucap bahwa ini bukan kesalahan, ini adalah ujian
terberat Bapak Rudi yang harus dilalui dengan sabar dan kekuatan. Insyaallah
semua bisa melewatinya.
Perbincangan ini sangat membuatku larut dalam segala suka
dan duka. Bagaimana tidak, Pak Rudi yang awalnya berjuang dengan keras, setelah
sukses malah kehilangan kedua orang tuanya. Aku dan Pak Rudi sama sama
kehilangan kedua orang tua. Persamaan yang lain adalah, kami sama sama berjuang
supaya meraih apa yang diinginkan, tetapi sukses belum berpihak padaku.
Ibaratnya, aku masih berada di tangga dan Pak Rudi sudah mencapai puncak. Hanya
tinggal meneruskan saja.
Hingga tiba waktu yang membuat aku berpikir bahwa ini
hanya mimpi. “Apakah ini mimpi?” bayangku. Sambungannya sangat membuatku sungguh
terharu. “Apa mungkin hidup ini sudah berpihak kepadaku?” batinku. Astaga, aku
tidak menyangka bahwa pertemuan oleh Pak Rudi, seorang Satpol PP yang
menangkapku, membawa ke Panti Sosial, dan memang kusadari sikap bandelku yang
masih berjualan, akan berakhir bahagia selamanya.
“Tanpa pikir panjang lagi, langsung saja, bagaimana kalau
nak Vian saya angkat menjadi anak saya?. Saya akan menyekolahkan nak Vian
sampai menjadi orang yang sukses. Saya melakukan ini karena saya ingat dengan
masa masa sebelum saya menjadi orang yang sukses. Tenang saja. Istri saya sudah
pasti mau menerima Nak Vian. Istri saya sedang mengandung anak pertama. Harus
mau ya?”. Ya Allah kejadian macam apa ini. sangat singkat, berbeda juga penuh
kejutan. Seketika itu juga aku hanya bisa terdiam. Belum bisa berkata apapun.
Kalaupun aku ikut Pak Rudi, apakah kebersamaan temanku berjualan akan hilang?.
Padahal hal itu juga yang membuat aku bisa bertahan dalam mencari penghasilan.
“Dan pasti Bapak tahu. Nak Vian memikirkan bagaimana
teman Nak Vian yang menemani selama berjualan. Tenang saja. Nak vian masih bisa
menemuinya. Nanti kita adakan acara makan makan. Sudahlah Nak Vian. Mari ikut
saya.”. Alhamdulillah akhirnya inilah akhir dari segala peristiwa hari ini.
Siapa yang ingin menolak lagi. Akupun mengucapkan terima kasih yang sebenarnya
itu tidak cukup untuk membalas niat baik Bapak Rudi.
“Ya Allah Bapak Rudi. Terima kasih banyak ya Pak. Saya
tidak tahu lagi harus berkata apa. Bapak yang mau menjadikan saya sukses hanya
dengan pertemuan ini. Bapak adalah orang yang Allah kirimkan untuk membuat saya
menjadi lebih baik. Saya berjanji Pak akan terus berjuang demi meraih sukses.
Orang tua saya pasti bahagia.” ucapku. Aku mengucapkannya dengan bibir
gemetaran. Air mataku juga menetes haru. Aku tidak bisa berpikir lebih jauh
lagi. Pak Rudi memelukku erat penuh kasih sayang yang lantas mengajakku untuk
ikut pulang bersamanya.
“Sudah ya Nak Vian. Jangan bersedih lagi. Mari ikut saya
pulang. Mungkin juga momen seperti ini yang bisa membuat kita bertemu. Hati
saya luluh, tersentuh, sekaligus ada yang membuat saya ingin menjadikan Nak
Vian sukses. Nak Vian adalah orang beruntung yang saya temui. Bersyukur, karena
masih banyak diluaran sana yang nasib hampir sama dan mereka masih berjuang
seperti Nak Vian. Ayo kita pulang bersama.” jelas Pak Rudi. Seketika itu juga
aku meninggalkan musolla dan menghapus air mata. Cengengnya aku, tetapi ini
bukan cengeng yang kekanakan. Aku menyikapinya dengan lebih jernih.
Lantas, semua ini adalah kebetulan sekaligus takdir yang
membuat hidupku berubah. Aku akan selalu mendoakan dan membuat Bapak Rudi
seperti orang tuaku sendiri. Jasa yang tidak akan pernah bisa dihitung dan
diganti dengan apapun. Hanya kita saja yang harus membuktikan bahwa kita bisa
menjadi orang yang lebih baik lagi. Sungguh, dalam perjalanan pulangku ke rumah
Pak Rudi mataku hanya menengok kaca mobil. Masih dipenuhi lensa yang nyata
adanya. Bukan mimpi.
Aku berterima kasih kepada Allah SWT yang senantiasa
memberikan cahaya setelah badai berlalu. Itu pasti. Pak Rudi, seorang Satpol PP
sang penertib jalanan yang berhati dermawan. Semoga, setelah ini masih banyak
orang orang yang berhati sama seperti Pak Rudi. Baiknya, sikapnya, jasanya, dan
semuanya tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata saja. Selamanya aku menyayangi
Pak Rudi.
-Selesai-
Penulis : Lidia Alfi Anisa

