[SERAP KARYA] Cerpen : Terima Kasih untuk Perjuanganmu


        Angin sore berhembus lembut menemaniku yang sedang duduk di samping batu nisan. Raut wajahku tidak bisa membohongi bahwa aku merindukan seseorang yang sudah berada pada bawah batu nisan ini. “Ibu........” ucapku sambil menahan air mata yang rasanya sebentar lagi akan menetes pada batu nisan ini. Iya benar, ini adalah makam ibuku. Aku seperti bisa merasakan kehadiran ibu disekitarku, aku juga seperti mencium wangi khas ibu yang selalu bisa menenangkan dalam gelisahku. Seseorang yang tak pernah bisa jika melihatku tidak bahagia. Seseorang yang pengorbanannya tidak bisa dibayar oleh apapun, bahkan seisi dunia rasanya masih kurang untuk bisa membalas segala yang telah ibuku korbankan untukku. Seseorang yang apabila memiliki keinginan, beliau akan berusaha dengan sunguh-sungguh dan selalu optimis dengan apa yang akan dilakukan.
        Saat umurku 7 tahun, Ayah pergi untuk selamanya. Ayah meninggal dunia karena sakit yang dideritanya. Tidak hanya meninggalkan aku dan ibu, tetapi ayah juga meninggalkan kedua adik kembarku yang saat itu usianya baru menginjak 3 tahun. Sejak saat itu juga, ibu tidak hanya berperan sebagai ibu. Beliau juga berperan menjadi sosok ayah bagi aku dan adikadikku.
            Sejak ayah tidak ada, aku menjadi saksi perjuangan ibu setiap harinya. Ibu bekerja sebagai buruh pabrik, beliau bekerja 12 hingga 15 jam setiap harinya. Tidak hanya itu, ibu juga mencari uang tambahan dengan menjajakan kue kering yang beliau buat. Semenjak ayah tidak ada, ibu menjadi seseorang yang sangat bekerja keras demi menghidupi aku dan kedua adikku. Karena penghasilan ibu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami, menyebabkan ibu sering berutang kepada tetangga, saudara, bahkan kepada lintah darat. Rumah yang kami tinggali pun merupakan rumah sewa yang harus ibu bayar setiap tahunnya. Uang sekolahku dan kedua adikku yang seharusnya dibayarkan setiap bulannya juga sering menunggak. Bahkan untuk menikmati ayam goreng, kami harus menunggu pemberian orang lain. Tidak sering juga rumah kami didatangi oleh lintah darat, karena ibu tidak mampu membayar utangnya saat itu. Aku masih ingat sekali betapa susahnya kehidupan kami dulu.
            Aku yang hanya melihat perjuangan ibu untuk kami saja rasanya seperti tidak kuat, bagaimana dengan ibu yang mengahadapinya sendiri?. Aku rasa apabila ibu mau, ibu bisa meninggalkan kami saat itu. Tapi tidak, ibuku memilih menghadapi pahit dan hancurnya hidup demi membesarkan aku dan kedua adikku. Pernah pada suatu malam, saat ibu tiba di rumah setelah hampir seharian beliau bekerja. Aku melihat tangan kanan ibu yang bengkak, sepertinya tangannya terkilir saat bekerja. “Tangan kanan ibu kenapa?, kok terlihat bengkak” tanyaku pada ibu sambil kulihat lagi dengan teliti tangannya, “Oh ini tidak apa-apa nak, besok pagi juga akan sembuh karena tidak sakit” jawab ibu kepadaku dengan lembut. Tetapi apa yang dikatakan ibu itu bohong, tangan ibu sakit dan bengkak hampir 2 minggu lamanya. Tidak sering juga saat memasak, aku mendengar ibu merintih kesakitan sambil sesekali memijat lagi tangannya. Bahkan ibu juga sering berbohong jika beliau tidak lapar setelah pulang kerja, demi aku dan adik-adikku makan dengan kenyang. Untuk masalah sekecil itu saja ibu berbohong kepadaku, bagaimana dengan masalah yang lain?. Sepertinya ibu juga menutupnya dan tidak akan menceritakannya pada kami.
            Ibu selalu berkata padaku agar selalu berdoa dan bekerja keras dengan sungguhsungguh untuk menggapai apa pun yang menjadi cita-citaku. Dan hal tersebut dibuktikan oleh ibu, ibu ingin sekali aku dan adikku menjadi sarjana agar bisa mengangkat derajat keluarga kami. Karena perjuangan keras yang ibu lakukan, aku bisa menjadi diriku yang sekarang. Ibu membiayaiku hingga aku menjadi sarjana, dan saat ini aku menjadi manajer di salah satu perusahaan besar di kota ini. Ibu berhasil meraih sepertiga mimpinya sebelum beliau meninggal dunia. Iya sepertiga, karena saat ibu meninggalkanku kedua adikku masih duduk di bangku SMA. Tetapi tidak menjadi suatu masalah, aku akan berusaha untuk mewujudkan cita-cita ibuku untuk menjadikan seorang sarjana para anaknya.
             Jika ibu ada disini saat ini ada yang ingin kusampaikan kepada ibu. Akan kuceritakan hari-hariku yang mulai berubah semenjak ibu meninggalkanku dua tahun yang lalu. Akan kuucapkan terima kasihku atas segala pengorbanan, dan segala pelajaran hidup yang ibu ajarkan pada kami. Dan tak lupa kupintakan maafku kepada ibu, demi membahagiakan kami ibu rela berpura-pura bahagia juga. Padahal beban yang ibu pikul, kenyataan yang ibu hadapi sangatlah berat. Tak akan pernah kulupakan apa yang pernah ibu ajarkan padaku mengenai kalimat yang pernah R.A Kartini ucapkan,“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” . Bagiku ibu adalah R.A Kartini yang ada dalam hidupku, pengorbananmu, kerja kerasmu, dan optimismu akan kujadikan sebagai inspirasiku. Terima kasih ibu, izinkan aku untuk meneruskan apa yang dicita-citakan oleh ibu. Karena aku percaya bahwa aku bisa membawa perjuangan ibu menemui pelangi setelah melewati derasnya hujan.

by : Elisa Dara Dinanti

Kabinet Cakrawala: Melangkah Bersama, Menembus Cakrawala

Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen 2026 Kabinet Aksata Rahagi adalah organisasi yang hadir sebagai wadah dinamis bagi mahasiswa untuk berkembang, bersuara, dan bersinar. Di sini, setiap langkah dan ide mahasiswa dihargai seperti bintang yang menyemarakkan malam. HMJM bukan sekadar organisasi, melainkan ruang kolaborasi penuh semangat yang memupuk aspirasi, mempertemukan mimpi, dan mendorong potensi. Dengan program kerja yang kreatif, terbuka, dan relevan, kami hadir untuk menjawab kebutuhan para mahasiswa S1 Manajemen masa depan. Yuk, jadi bagian dari perjalanan luar biasa ini dan lihat apa yang bisa kita capai bersama. Let’s light up the sky together with HMJM. HMJM, We Believe We Can Do It!