Ruang waktu jauh berpindah.
Dimensi jaman telah berubah.
Aku tertegun,
Bagaimana kita sebagai wanita bisa bebas merdeka meraih asa?
Dalam benak, diri bertanya.
Sungguh, jasa siapakah?
Pernahkah kalian mendengar kisah haru?
Tatkala patriarki berteriak bangga,
lalu tertawa memandang rendah.
Berulang kali berkata,
"Wanita terlalu lemah tuk berkuasa"
Sambil berkacak pinggang penuh amarah.
"Hei, sadarkan dirimu!
Tugasmu hanya menjaga dapur.
Berkutat dengan asap, tak bisa kabur.
Bersolek untuk kami.
Memuaskan hasrat para lelaki.
Jangan kebanyakan mimpi!
Takkan berguna juga jika sekolah tinggi-tinggi.
Terima saja nasibmu, jangan angkuh hingga tak tau diri"
Kesalkah kau mendengarnya?
Inginkah kau menutup mulut sampahnya?
Begitulah,
Duka lara para wanita dahulu
Derai tangis seiring waktu.
Diam tak bertumpu.
Berharap secercah harapan baru.
Namun doa bak angin yang berlalu.
Dalam senyap,
Sosok itu perlahan unjuk gigi.
Dialah Kartini.
Sosok pemberani nan pengasih.
Dipenuhi mimpi dengan beragam ambisi.
Cukup,
Ia sudah tak tahan lagi.
Melihat kaumnya yg slalu dirutuki.
Merasa malu pada ibu pertiwi.
Dengan bangga, berjuanglah wahai kartini!
Sang pelopor emansipasi.
Teruslah bergerak maju.
Mengajar dan memberitahu.
Buat kami bebas, merdeka, dan tak dibelenggu.
Teruntuk Kartini,
Sang wanita kebanggaan negeri.
Kini, harapmu telah nyata terjadi.
Sungguh benar,
tak cukup bagi kami hanya berterimakasih.
Mengingat perjuanganmu yang tak henti.
Tanpamu, mungkin kami masih menangis diujung tepi.
Doakan kami,
tuk menjadi penerus kartini era globalisasi.
by : Selviana Arya Putri
Dimensi jaman telah berubah.
Aku tertegun,
Bagaimana kita sebagai wanita bisa bebas merdeka meraih asa?
Dalam benak, diri bertanya.
Sungguh, jasa siapakah?
Pernahkah kalian mendengar kisah haru?
Tatkala patriarki berteriak bangga,
lalu tertawa memandang rendah.
Berulang kali berkata,
"Wanita terlalu lemah tuk berkuasa"
Sambil berkacak pinggang penuh amarah.
"Hei, sadarkan dirimu!
Tugasmu hanya menjaga dapur.
Berkutat dengan asap, tak bisa kabur.
Bersolek untuk kami.
Memuaskan hasrat para lelaki.
Jangan kebanyakan mimpi!
Takkan berguna juga jika sekolah tinggi-tinggi.
Terima saja nasibmu, jangan angkuh hingga tak tau diri"
Kesalkah kau mendengarnya?
Inginkah kau menutup mulut sampahnya?
Begitulah,
Duka lara para wanita dahulu
Derai tangis seiring waktu.
Diam tak bertumpu.
Berharap secercah harapan baru.
Namun doa bak angin yang berlalu.
Dalam senyap,
Sosok itu perlahan unjuk gigi.
Dialah Kartini.
Sosok pemberani nan pengasih.
Dipenuhi mimpi dengan beragam ambisi.
Cukup,
Ia sudah tak tahan lagi.
Melihat kaumnya yg slalu dirutuki.
Merasa malu pada ibu pertiwi.
Dengan bangga, berjuanglah wahai kartini!
Sang pelopor emansipasi.
Teruslah bergerak maju.
Mengajar dan memberitahu.
Buat kami bebas, merdeka, dan tak dibelenggu.
Teruntuk Kartini,
Sang wanita kebanggaan negeri.
Kini, harapmu telah nyata terjadi.
Sungguh benar,
tak cukup bagi kami hanya berterimakasih.
Mengingat perjuanganmu yang tak henti.
Tanpamu, mungkin kami masih menangis diujung tepi.
Doakan kami,
tuk menjadi penerus kartini era globalisasi.

